Minggu, 02 November 2008

Ingin Hasilkan Uranium dari Air Laut

Terry Mart PhD, Doktor Dijuluki Profesor : Ingin Hasilkan Uranium dari Air Laut git/bay/kum
Jiwa peneliti Terry Mart PhD tak pernah padam meski dana yang tersedia terbatas. Suatu ketika, gara-gara tak punya biaya untuk penelitiannya, ahli fisika nuklir dan partikel itu terpaksa menggerogoti tabungan belanja istrinya.
Sebagai peneliti, Terry Mart punya mimpi yang ingin dia wujudkan. Dia ingin menghasilkan uranium melalui proses fisika di air laut. Uranium itu bisa menjadi bahan reaktor nuklir yang menghasilkan energi luar biasa dahsyat, tapi sangat aman.
"Itu sangat mungkin terjadi. Bahkan, reaksinya sangat aman. Hanya, butuh waktu lama," kata Terry kepada Jawa Pos menjelaskan soal mimpi besarnya itu, di kantornya, lantai 3 Departemen Fisika Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI).
Sehari-hari satu dari enam ilmuwan yang masuk dalam daftar Wise Index of Leading Scientists and Engineer dari Comstech tersebut memang berkantor di ruangan seluas sekitar 9 meter persegi itu.
Di level internasional, kepakaran Terry cukup diakui di bidang fisika nuklir dan partikel. Namanya hampir tak terhitung dikutip peneliti mancanegara ketika menyusun riset bidang yang sama. Hingga saat ini bapak tiga anak itu sudah 90 kali menulis paper di jurnal internasional.
"Meski demikian, kontribusi Indonesia di jurnal internasional masih kalah jauh dengan negara berkembang sekelas Nepal," katanya.
Dia lantas menyinggung imbalan dari pemerintah kepada seorang dosen yang karyanya berhasil nangkring di jurnal internasional. Imbalannya kata Terry hanya sekitar Rp 1 juta.
Inilah yang menyebabkan mengapa dosen cenderung malas mengirimkan karya ilmiah ke jurnal internasional. Karena itu, jumlah peneliti Indonesia masih sangat sedikit yang mampu menembus jurnal internasional. Bahkan, lanjut Terry, doktor yang mampu menulis dan namanya menjadi rujukan peneliti dunia juga masih bisa dihitung dengan jari.
Itu sangat jauh berbeda dibanding di Amerika Serikat. Pada 2004 saja, lanjut Terry, peneliti Amerika sudah mencatatkan 198.000 jurnal internasional. "Bandingkan dengan Indonesia yang baru 87 penelitian. Ketika itu, hanya empat penelitian Indonesia yang dikutip peneliti lain, sementara negeri Paman Sam itu sudah tak terhitung jumlahnya," jelasnya.
Kiprah Terry dalam dunia fisika partikel memang tidak tiba-tiba. Sebelumnya dia menggondol gelar sarjana dari Faklutas MIPA Universitas Indonesia. Karena berhasil lulus cumlaude, Terry berhak atas beasiswa dari Universitat Mainz, Jerman, untuk melanjutkan studi pascasarjana hingga meraih PhD. Dia berhasil meraih gelar S-3 pada usia 31 tahun. Pria yang kini berumur 43 tahun itu kemudian berusaha menuntut post doctoral di George Washington University. "Kampus saya ketika itu hanya tiga blok saja dengan Gedung Putih," kenang Terry. Di sana dia tetap menekuni bidang yang sama, fisika partikel. Hingga sekarang bidang itu terus digeluti. "Penelitian saya sudah banyak. Apalagi yang pengembangan," jelas dosen penerima Best Young Researcher Award dari UI itu.
Di bidang itu Terry memang terus aktif meneliti proton dan netron, termasuk inti atom dan nukir. Dia juga mengamati bintang netron yang meledak, tapi tidak menjadi black hole.
Untuk penelitiannya, Terry kerap mengeluarkan dana sendiri. Uangnya tentu dari honorarium berbagai paper yang dimuat di jurnal internasional.
Kadang dia sampai menginvestasikan tabungan dan honor yang didapat untuk bepergian ke luar negeri. Tujuannya, apalagi kalau bukan mendalami hasil temuan-temuan di bidang partikel. "Konsekuensinya tabungan belanja untuk anak istri tak pernah naik. Namun, untunglah mereka memahaminya," ujar peraih Habibie Award for Pioneering Theoretical itu.
Dia mengakui bidang risetnya memang sulit mendapatkan biaya. "Riset kami adalah riset hulu. Ibaratnya akar di pohon. Riset saya bukan buah yang selalu tampak dan bisa langsung dinikmati," jelasnya. Karena itu, untuk mendanai risetnya dia kerap menggandeng kampus-kampus di luar negeri.
Karena kiprahnya di kampus-kampus luar negeri, Terry kerap dipanggil profesor, padahal dia belum profesor. Undangan-undangan pembicara dari berbagai kampus di Arab juga mencantumkan gelar profesor untuknya. "Padahal, saya cuma doktor. Mereka menghargai kepakaran seseorang," ujarnya.
Memang, sejauh ini Terry belum berminat meraih gelar profesor alias menjadi guru besar. Padahal, dengan modal penelitian saja mudah bagi Terry untuk meraih gelar itu. "Sebenarnya saya sudah berkali-kali mengajukan, tapi juga belum dapat," terangnya.
Sumber :
Jawa Pos (22 September 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar